Undangan hajatan selalu membawa kabar baik yang sedikit merepotkan.
Seseorang menikah, punya anak, atau mengadakan syukuran. Nama, tempat, tanggal, lalu satu kata yang biasanya datang belakangan: kondangan.
Aku sebenarnya senang menerima undangan. Hanya saja, setelah senang sebentar, mulai muncul urusan yang tidak tertulis di sana.
Amplop.
Benda kecil itu rupanya memiliki kemampuan membuat sebuah kabar bahagia terasa seperti pekerjaan rumah.
Harus mencari yang pantas. Bukan hanya amplopnya, tetapi juga isinya. Terlalu tipis membuat tangan terasa berat menyerahkannya. Terlalu tebal membuat tangan berat melepaskannya.
Akhirnya dipilihlah sebuah nominal yang cukup untuk menjaga wajah tetap tegak dan dompet tetap bisa bernapas.
Amplop ditutup.
Masalah selesai.
Atau setidaknya berpura-pura selesai.
Lagipula, apalagi yang dicari dari sebuah hajatan selain barter yang rapi? Setelah amplop disiapkan, urusan terasa sederhana. Tinggal datang, menyerahkan, tersenyum, lalu pulang dengan perasaan bahwa kewajiban telah ditunaikan.
Sebuah transaksi yang begitu sopan sampai aku sendiri kadang lupa sedang memberikan sesuatu ataukah sedang membeli ketenangan.
Setelah semua keberatan itu selesai dipikirkan, tangan tetap melipat amplop dengan hati-hati. Baju tetap dicari yang paling pantas. Rambut tetap dirapikan. Kaki tetap membawa tubuh ke tempat hajatan.
Seolah-olah seluruh keluhan tadi hanyalah pemanasan sebelum berangkat.
Lalu suatu hari ada undangan.
Tetangga mendapat.
Orang lain mendapat.
Aku tidak.
Awalnya justru terasa lega.
Tidak perlu mencari amplop. Tidak perlu memasukkan nominal. Tidak perlu membuka lemari sambil bertanya pakaian mana yang pantas.
Beberapa saat kemudian, lega itu berubah bentuk.
Kenapa tidak diundang?

0 Komentar