Setiap malam, seekor ayam memilih tidur
di pohon.
Pemiliknya sempat mengira ayam itu tidak mau berteduh karena memang belum
ada tempat yang layak. Maka dibuatlah kandang. Tidak besar, tetapi cukup untuk
berteduh. Letaknya hanya beberapa meter dari pohon yang selama ini dipilih ayam
untuk tidur.
Malam berikutnya hujan turun.
Kandang sudah ada. Atap sudah terpasang. Tetapi ayam tetap naik ke pohon.
Bulunya basah diterpa hujan, sementara kandang di bawahnya kosong seperti rumah
baru yang belum mendapat penghuni.
Malam berikutnya ayam dipindahkan ke kandang. Beberapa saat kemudian terdengar suara kepakan.
Ayam sudah kembali ke pohon.
Dipindahkan lagi.
Kembali lagi.
Kandang sudah dibuat, tetapi ayam seperti sudah punya surat perjanjian
kontrak dengan pohon.
Hujan masih turun. Ayam tetap tidur di pohon.
Hingga suatu malam ayam dipindahkan ke kandang dan pintunya ditutup. Kali
ini ia tidak bisa keluar sampai pagi.
Pagi datang. Pintu dibuka. Ayam keluar.
Malamnya ia kembali ke pohon.
Begitu terus.
Sampai akhirnya ayam dimasukkan lagi ke kandang. Pintu ditutup dan kali ini
ia dibiarkan di dalam selama beberapa hari. Pagi diberi makan. Siang air
diganti. Sore kandang diperiksa. Malam datang, ayam tetap berada di dalam.
Suatu pagi, pintu dibuka. Ayam keluar. Pintu kembali ditutup.
Menjelang malam, ayam mendekati kandang. Pintunya masih tertutup. Ia
menunggu di situ.
Sementara pohon yang menjadi tempat tidurnya selama ini masih berdiri
beberapa meter dari kandang.

0 Komentar