Jalan itu sudah hilang bentuknya.
Aspal yang dulunya rata kini terkelupas menjadi
bongkahan-bongkahan tajam. Di antara pecahannya terbuka ceruk-ceruk dalam
berisi tanah merah dan kerikil lepas. Bahu jalan lenyap di balik timbunan
tanah. Jalur dua arah yang biasanya lapang kini menciut menjadi satu lajur
sempit yang harus diperebutkan dari dua sisi.
Lampu rem menyala merah, berderet panjang menembus
kepulan debu.
Di titik penyempitan, dua pemuda berdiri di bawah terik
siang. Yang satu memegang papan kayu bertuliskan STOP yang sudah
kusam, yang satu lagi mengayun-ayunkan ember cat bekas ke arah jendela mobil
dan stang motor. Di dasar ember, beberapa lembar uang dua ribuan yang lusuh
berputar mengikuti ayunan tangannya.
Antrean menumpuk tanpa kepastian. Tidak ada hitungan
menit yang jelas. Papan kayu diputar sesuka hati—jalur kanan dibiarkan
terpanggang belasan menit, sementara jalur kiri terus dialirkan hanya karena
rombongan truk melintas. Seorang pemotor menurunkan kedua kakinya ke tanah,
menepuk-nepuk jaketnya yang memutih oleh debu, lalu melirik jam tangan untuk
kesekian kalinya.
Ketika giliran dibuka, mesin-mesin meraung serentak.
Roda-roda melompati galian tanah, menghantam pecahan
batu yang berserakan. Pengendara matik berdiri sebentar dari jok untuk menahan
hentakan keras pada suspensi. Debu kuning terbang menyengat mata, masuk ke
celah helm, dan menempel di kulit yang berkeringat. Sebuah sedan berderit
nyaring ketika bagian bawahnya terantuk bibir galian yang menganga.
Satu per satu kendaraan merayap melewati permukaan yang
tak lagi menyerupai jalan. Bekas roda membelah tanah basah di satu sisi dan
debu kering di sisi lainnya. Pecahan aspal berserakan di antara batu dan tanah
merah, seperti sisa sesuatu yang telah dibongkar dan belum sempat dikembalikan.
Di ujung galian dan bongkahan aspal itu, tertancap dua
bilah bambu yang menopang spanduk kain berwarna biru pudar.
Tulisannya dicetak tebal dengan huruf kapital:
SEDANG ADA PERBAIKAN

0 Komentar