JALAN

 

Es Es - Ikon Blog

Jalan itu sudah hilang bentuknya.

Aspal yang dulunya rata kini terkelupas menjadi bongkahan-bongkahan tajam. Di antara pecahannya terbuka ceruk-ceruk dalam berisi tanah merah dan kerikil lepas. Bahu jalan lenyap di balik timbunan tanah. Jalur dua arah yang biasanya lapang kini menciut menjadi satu lajur sempit yang harus diperebutkan dari dua sisi.

Lampu rem menyala merah, berderet panjang menembus kepulan debu.

Di titik penyempitan, dua pemuda berdiri di bawah terik siang. Yang satu memegang papan kayu bertuliskan STOP yang sudah kusam, yang satu lagi mengayun-ayunkan ember cat bekas ke arah jendela mobil dan stang motor. Di dasar ember, beberapa lembar uang dua ribuan yang lusuh berputar mengikuti ayunan tangannya.

Antrean menumpuk tanpa kepastian. Tidak ada hitungan menit yang jelas. Papan kayu diputar sesuka hati—jalur kanan dibiarkan terpanggang belasan menit, sementara jalur kiri terus dialirkan hanya karena rombongan truk melintas. Seorang pemotor menurunkan kedua kakinya ke tanah, menepuk-nepuk jaketnya yang memutih oleh debu, lalu melirik jam tangan untuk kesekian kalinya.

Ketika giliran dibuka, mesin-mesin meraung serentak.

Roda-roda melompati galian tanah, menghantam pecahan batu yang berserakan. Pengendara matik berdiri sebentar dari jok untuk menahan hentakan keras pada suspensi. Debu kuning terbang menyengat mata, masuk ke celah helm, dan menempel di kulit yang berkeringat. Sebuah sedan berderit nyaring ketika bagian bawahnya terantuk bibir galian yang menganga.

Satu per satu kendaraan merayap melewati permukaan yang tak lagi menyerupai jalan. Bekas roda membelah tanah basah di satu sisi dan debu kering di sisi lainnya. Pecahan aspal berserakan di antara batu dan tanah merah, seperti sisa sesuatu yang telah dibongkar dan belum sempat dikembalikan.

Di ujung galian dan bongkahan aspal itu, tertancap dua bilah bambu yang menopang spanduk kain berwarna biru pudar.

Tulisannya dicetak tebal dengan huruf kapital:

SEDANG ADA PERBAIKAN 


back -------- next


Posting Komentar

0 Komentar