Menentukan tempat berkumpul sekarang membutuhkan lebih
banyak pesan daripada menentukan menu hajatan.
"Di mana?"
"Lapangan."
"Kepastian?"
"Gas."
"Lima menit lagi."
"Lima menit."
Percakapan itu berjalan cukup lama hingga matahari ikut
membaca dari balik awan.
Menjelang sore, satu per satu mulai berdatangan. Bangku
semen segera penuh. Sandal berserakan seperti sengaja diparkir agar mudah
ditemukan nanti. Tidak ada yang terlambat. WhatsApp rupanya lebih disiplin
daripada jam dinding.
Mereka duduk melingkar.
Di tengah lingkaran itu tidak ada bola. Tidak ada kartu.
Tidak ada makanan. Yang menyala justru beberapa layar, membuat wajah mereka
tampak seperti sedang disinari akuarium.
Jempol mulai bekerja.
Sesekali terdengar tawa.
Tidak ada yang bertanya kenapa.
Mungkin karena semua sudah tahu, tawa itu berasal dari
tempat lain.
Seorang anak mengetik sangat cepat. Anak di sebelahnya
ikut menunduk, bukan untuk membaca pesannya, melainkan membalas pesan dari
orang yang berbeda. Keduanya hanya dipisahkan satu lengan, tetapi sore itu
mereka sedang sibuk mengejar orang-orang yang letaknya beberapa kilometer dari
bangku tersebut.
Ada yang mengangkat teleponnya lebih tinggi, mencari
sinyal. Temannya ikut bergeser sedikit agar tidak menutupi angin. Padahal
mereka tidak sedang berbicara satu sama lain.
Di ujung bangku, seseorang tiba-tiba tersenyum lebar,
lalu menulis, "Wkwkwk."
Kalimat itu menempuh perjalanan ke kecamatan sebelah.
Anak yang duduk tepat di sampingnya hanya sempat melihat
kedua ibu jarinya bergerak seperti dua pegawai yang belum pulang lembur.
Sore semakin redup.
Beberapa anak mulai berdiri.
"Yuk, pulang."
Mereka mengangguk, memasukkan telepon ke saku, lalu
berjalan ke rumah masing-masing.
Beberapa menit kemudian grup WhatsApp kembali hidup.
"Seru tadi."
"Besok kumpul lagi?"
"Gas."

0 Komentar