CARA TERBAIK MENGURANGI MAIN HP ADALAH DENGAN TIDAK MENONTON KONTEN "CARA MENGURANGI MAIN HP"

 

Es Es - Ikon Blog

Sebagai manusia modern yang hobi menimbun dosa digital, rutinitas sebelum tidurku sudah sangat terukur. Rebahan, mematikan lampu kamar, lalu menyalakan layar HP dengan tingkat kecerahan maksimal yang sanggup membuat mata perih dalam hitungan menit. Tanganku kemudian melakukan gerakan magis yang dilakukan miliaran manusia malam ini: scrolling tanpa arah di TikTok, menonton Reels Instagram, lalu pindah ke X kalau sedang butuh asupan keributan netizen. Kita semua tahu ini kebiasaan buruk, tapi melepaskan HP sebelum tidur rasanya lebih berat daripada melepaskan kenangan mantan yang masih berutang.

Di tengah malam yang sunyi itu, algoritma media sosial yang biasanya menyodorkan video kucing lucu atau emak-emak joget, mendadak berubah menjadi sangat religius dan perhatian pada kesehatan mentalku. Lewatlah sebuah video estetik di beranda. Visualnya sangat menenangkan: pemandangan hutan pinus yang berkabut, gemercik air sungai yang jernih, diiringi instrumen piano yang melodius—jenis musik syahdu yang biasa diputar di klinik pijat refleksi demi membuat pelanggan tertidur saat jempol kakinya dipencet.

Lalu muncullah teks dengan font putih yang anggun di tengah layar: “Tanda-tanda jiwamu lelah karena terlalu sering bermain media sosial. Saatnya berhenti, nikmati dunia nyata.” Di video lain yang senada, seorang kreator konten dengan wajah teduh mirip biksu tanpa jubah menceritakan kisah suksesnya hidup tanpa HP selama tiga bulan. Katanya, hidupnya sekarang sangat damai, fokusnya tajam, dan dia merasa sangat dekat dengan semesta.

Saat menonton itu, aku terenyuh. Aku merasa berdosa karena jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan aku masih menatap layar sambil rebahan dengan posisi leher miring yang berisiko memicu pegal linu akut beraliran sesat. Kata-kata motivasinya sungguh meresap ke dalam sanubari. Aku merasa mendapati oase kesucian di tengah gurun pasir digital yang penuh maksiat visual.

Namun, tepat di detik-detik akhir video, saat air mata tobatku sudah menggantung di sudut kelopak mata dan aku sudah siap menjadi manusia baru yang mencintai pohon, keajaiban itu runtuh tanpa sisa. Si kreator konten yang tadi bicaranya sangat filosofis tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya. Tetesan air mata estetik di videonya berganti menjadi senyuman lebar seorang wiraniaga.

Ia berkata dengan nada riang tanpa dosa: “Nah, kalau kamu mau tahu tips lebih lanjut untuk lepas dari kecanduan HP dan hidup tenang di hutan, jangan lupa klik Like, Comment, Subscribe, dan nyalakan lonceng notifikasinya ya! Share juga video ini ke 10 temanmu yang masih hobi main HP agar akun ini terus berkembang dan kita bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa!”

Bentar, bentar. Otakku yang sudah agak lemot karena kurang tidur mendadak mengalami macet total seperti mesin jahit kemasukan benang kusut. Ada rasa heran yang menggelitik di dahi yang mulai mengkerut.

Mari kita urai pelan-pelan logika berpikirnya. Aku disuruh mengurangi main HP. Aku dinasihati untuk mengurangi melihat media sosial. Bahkan disuruh menikmati indahnya dunia nyata tanpa sekat layar kaca yang penuh kepalsuan ini. Tapi, di saat yang sama, aku dipaksa mengaktifkan lonceng notifikasi agar setiap kali ada konten anti-HP terbaru unggahannya, HP-ku berbunyi nyaring, dan aku terpaksa kembali membuka layar cuma buat menonton khotbah tentang bahaya HP?

Situasi ganjil ini membuatku merenung sambil memijat leher yang mulai kaku akibat posisi rebahan yang tidak ergonomis. Ini adalah sebuah keanehan yang kelewat jenaka. Akun-akun motivasi yang mengampanyekan gerakan meninggalkan dunia maya ini tidak ubahnya seperti bandar narkoba yang membuka klinik rehabilitasi, tapi brosur pendaftarannya diselipkan di dalam paket sabu-sabu yang mereka jual ke pelanggan. Mereka menyembuhkan kita dengan zat yang membuat kita sakit.

Bagaimana bisa sebuah gerakan suci untuk "meninggalkan dunia maya" justru dipromosikan habis-habisan lewat jalur algoritma? Ini seperti kita sedang berdemo menolak pembangunan pabrik semen, tapi demonya dilakukan di dalam ruang rapat direktur pabrik tersebut sambil menumpang makan siang gratis dari mereka.

Pada akhirnya, kita semua terjebak dalam sebuah lingkaran setan yang sangat menggelikan. Kita harus online setiap hari hanya untuk belajar cara menjadi offline. Kita harus terus-terusan menatap layar demi mendapatkan validasi dari orang asing bahwa menatap layar itu tidak baik untuk kesehatan mata dan mental. Kita mengonsumsi konten anti-konten.

Bayangkan betapa konyolnya masa depan kemanusiaan jika tren ini terus berlanjut. Nanti akan ada aplikasi khusus bernama "Aplikasi Anti-HP". Di dalam aplikasi itu, kita harus melakukan check-in setiap hari, menonton iklan selama 30 detik, dan mengundang tiga teman baru agar kita mendapatkan poin prestasi berupa gelar "Manusia Paling Jarang Main HP". Jika tidak membuka aplikasi itu dalam waktu tiga hari, kita akan mendapatkan notifikasi sedih: "Kamu sudah lama tidak belajar cara melupakan HP, yuk buka aplikasi sekarang!"

Jadi, setelah merenungkan kekonyolan ini sampai subuh hampir menjelang, aku mengambil sebuah keputusan penting yang sangat radikal bagi kesehatan jiwaku. Aku menyadari bahwa cara terbaik untuk memulai hidup sehat tanpa kecanduan media sosial ternyata tidak butuh tutorial dari kreator konten mana pun. 

Jika ingin hidup tenang tanpa media sosial, yang harus dilakukan adalah melempar HP ke atas kasur, membalikkan badan, lalu tidur.

Dan begitu bangun... ya, main HP lagi.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar