Di kampung kami, anak-anak pergi sekolah dengan penuh semangat. Ada yang
berjalan kaki, ada yang naik sepeda, ada juga yang naik semangat karena
kendaraan memang tidak ada.
Setiap pagi mereka melewati jalan yang kalau musim hujan
lebih mirip kolam ikan yang sedang direhab. Ada yang berangkat jam lima supaya
jam tujuh masih sempat sampai. Kadang bukan karena sekolah jauh, tapi karena
jalannya suka berubah pikiran.
Di tengahnya ada jembatan kayu tua. Jika diinjak,
bunyinya seperti orang yang sedang menyesali keputusan-keputusan hidupnya.
Anehnya, anak-anak tetap lewat. Mungkin karena sekolah lebih penting.
Lalu datang kabar besar dari televisi. Katanya anak-anak
harus bergizi. Supaya pintar. Supaya kuat belajar. Supaya masa depan bangsa
cerah. Semua orang mengangguk. Setuju. Memang benar.
Beberapa mulai berdiskusi dengan serius. Ada yang
berkata jika anak kenyang pasti lebih semangat. Ada yang berucap kalau perut
kosong mana bisa berpikir besar. Ada juga yang mengangguk sambil berkata,
“Benar juga, selama ini mungkin yang kurang cuma tenaga.” Sementara anak-anak
ikut mendengarkan sambil sesekali melihat sepatu mereka yang solnya mulai
membuka jalan hidup masing-masing.
Besoknya, anak-anak tetap berangkat jam lima. Tetap
melewati jalan yang sama. Tetap menyeberangi jembatan penyesalan itu. Tidak ada yang berubah. Mereka masih
berangkat sambil menguap, masih berhenti sebentar untuk membersihkan alas yang
kalah cepat dari lumpur, dan masih saling menyemangati dengan kalimat yang
sudah diwariskan turun-temurun: “Sedikit lagi sampai.” Padahal kalimat itu
biasanya diucapkan berkali-kali sebelum benar-benar sampai. Bedanya sekarang,
mereka berjalan dengan keyakinan baru: ada sesuatu yang menunggu ketika tiba.”
Kali ini mereka berangkat dan begitu sampai bisa
langsung kenyang. Ada kemajuan.
Di sekolah, guru bertanya, “Anak-anak, cita-citanya
apa?” Yang depan menjawab, “Dokter.” Yang belakang menjawab, “Insinyur.” Lalu,
guru, polisi, tentara, ……. Jawaban-jawaban itu meluncur lancar seperti yang
biasa kita dengar dalam pidato peringatan hari pendidikan.
Lalu yang duduk dekat jendela menjawab pelan, “Saya
ingin cepat sampai ke sekolah, Bu.”
Kelas mendadak diam. Guru tersenyum lalu berkata,
“Tidak apa-apa. Mimpi itu harus tinggi.”
Anak itu mengangguk. Karena memang kalau jalannya begini, setiap hari mereka sudah terbiasa menanjak.

0 Komentar