MELEWATI JALAN BERGIZI

 

Es Es - Ikon Blog

Di kampung kami, anak-anak pergi sekolah dengan penuh semangat. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda, ada juga yang naik semangat karena kendaraan memang tidak ada.

Setiap pagi mereka melewati jalan yang kalau musim hujan lebih mirip kolam ikan yang sedang direhab. Ada yang berangkat jam lima supaya jam tujuh masih sempat sampai. Kadang bukan karena sekolah jauh, tapi karena jalannya suka berubah pikiran.

Di tengahnya ada jembatan kayu tua. Jika diinjak, bunyinya seperti orang yang sedang menyesali keputusan-keputusan hidupnya. Anehnya, anak-anak tetap lewat. Mungkin karena sekolah lebih penting.

Lalu datang kabar besar dari televisi. Katanya anak-anak harus bergizi. Supaya pintar. Supaya kuat belajar. Supaya masa depan bangsa cerah. Semua orang mengangguk. Setuju. Memang benar.

Beberapa mulai berdiskusi dengan serius. Ada yang berkata jika anak kenyang pasti lebih semangat. Ada yang berucap kalau perut kosong mana bisa berpikir besar. Ada juga yang mengangguk sambil berkata, “Benar juga, selama ini mungkin yang kurang cuma tenaga.” Sementara anak-anak ikut mendengarkan sambil sesekali melihat sepatu mereka yang solnya mulai membuka jalan hidup masing-masing.

Besoknya, anak-anak tetap berangkat jam lima. Tetap melewati jalan yang sama. Tetap menyeberangi jembatan penyesalan itu. Tidak ada yang berubah. Mereka masih berangkat sambil menguap, masih berhenti sebentar untuk membersihkan alas yang kalah cepat dari lumpur, dan masih saling menyemangati dengan kalimat yang sudah diwariskan turun-temurun: “Sedikit lagi sampai.” Padahal kalimat itu biasanya diucapkan berkali-kali sebelum benar-benar sampai. Bedanya sekarang, mereka berjalan dengan keyakinan baru: ada sesuatu yang menunggu ketika tiba.”

Kali ini mereka berangkat dan begitu sampai bisa langsung kenyang. Ada kemajuan.

Di sekolah, guru bertanya, “Anak-anak, cita-citanya apa?” Yang depan menjawab, “Dokter.” Yang belakang menjawab, “Insinyur.” Lalu, guru, polisi, tentara, ……. Jawaban-jawaban itu meluncur lancar seperti yang biasa kita dengar dalam pidato peringatan hari pendidikan.

Lalu yang duduk dekat jendela menjawab pelan, “Saya ingin cepat sampai ke sekolah, Bu.”

Kelas mendadak diam. Guru tersenyum lalu berkata, “Tidak apa-apa. Mimpi itu harus tinggi.”

Anak itu mengangguk. Karena memang kalau jalannya begini, setiap hari mereka sudah terbiasa menanjak.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar