RETAKAN PERTAMA DI ANTARA MEREKA
Udara di ruang bawah tanah itu berubah—lebih berat, lebih dingin, seperti
seluruh dinding ikut mendengarkan napas mereka. Tanpa cahaya Arvun, ruangan
kembali gelap kecuali garis tipis biru di lantai yang perlahan padam.
Ravi masih menatap titik tempat sosok itu lenyap.
Ardea menyentuh bahunya pelan. “Ravi… kita harus pergi. Energi ruangan ini tidak
stabil lagi.”
Nadara berdiri sedikit jauh, masih memegang pisau, bukan karena ingin
menyerang, tapi karena tangannya gemetar hebat.
Ravi mengangguk pelan. Tapi ia tidak bergerak.
“Ardea…” suaranya hampir tak terdengar, “…dia bohong, kan?”
Ardea membuka mulut—dan menutupnya lagi. Seolah setiap jawaban adalah bom
yang bisa meledakkan sesuatu dalam hati Ravi.
“Kami tidak ingin kamu percaya dia,” kata Ardea akhirnya. “Itu saja.”
“Bukan itu pertanyaannya,” Ravi menatap Ardea. “Ardea, apa dia berbohong?”
Nadara menelan ludah, lalu berkata lirih, “Ravi… Arvun mungkin jahat. Tapi
tidak semua yang jahat itu bohong.”
“JADI BETUL?!” Ravi membentak, suaranya pecah.
Pantulan suaranya memenuhi ruangan, membuat garis cahaya di lantai berkedip
pendek seperti merespons emosinya.
Ardea mengangkat tangan, ingin menyentuh Ravi lagi—tapi berhenti di tengah
udara.
“Ravi… asal-usulmu… memang bukan hal yang sederhana.”
“Jadi kalian berdua tahu? Selama ini?” Ravi berbalik pada Nadara. “KAMU juga
tahu?”
Nadara menunduk, tidak sanggup menatapnya. “Kami tidak tahu semuanya. Tapi
kami tahu cukup banyak untuk… takut.”
“Kepada aku?”
Hening panjang. Menyesakkan. Lebih dingin daripada ruangan itu sendiri.
Akhirnya Nadara mengangguk kecil.
Ravi mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Ardea cepat menyahut, “Bukan takut padamu, Ravi! Tapi pada hal yang menempel
di dalam dirimu! Itu berbeda!”
“Tapi itu bagian dari aku,” Ravi balas cepat. “Dan kalian takut padanya,
berarti kalian… takut padaku.”
Cahaya biru yang tersisa di lantai terlihat merambat naik ke dinding, seolah
energi ruangan mulai bergerak mencari sesuatu—atau seseorang.
Ardea menyadarinya. “Kita harus keluar. Ravi, aku janji kita akan bicara.
Semua akan aku jelaskan. Tapi tidak di sini. Ruangan ini—”
“RUANGAN INI?” Ravi memotong. “Selalu ruangan, penjaga, makhluk, cahaya,
jejak, Arka, bahaya—tapi tidak ada yang menjelaskan apa sebenarnya aku!”
Ardea mengunci napasnya. Nadara menggigit bibir kuat-kuat.
Ravi meremas rambutnya. “Ardea… aku bahkan tidak tahu apakah aku masih
manusia biasa atau bukan.”
Ardea mengambil langkah kecil mendekat. “Bagi aku… kamu Ravi. Itu saja.”
Tetapi kalimat itu—meski lembut—tidak cukup.
Tiba-tiba suara retakan terdengar dari dinding. Cahaya biru merayap keluar
seperti urat yang hidup. Energi ruangan mulai tak stabil.
Nadara memandang ke sekeliling dan berseru, “Kita harus pergi SEKARANG!”
Tetapi Ravi berdiri diam. Tubuhnya seperti terpaku.
Suara yang lebih tua. Lebih dalam.
"Aku melihatmu… Ravi…"
Ardea membeku. Nadara mundur spontan.
Ravi menelan ludah, tubuhnya bergetar. Suara itu bukan dari ruangan. Bukan
dari kepala Ravi. Bukan dari bawah tanah.
Suara itu… datang dari permukaan bumi.
Seolah sesuatu di atas sana—di dunia manusia—baru saja membuka matanya dan
memanggilnya.
Ardea menarik Ravi dengan paksa. “KITA HARUS KELUAR!”
Nadara sudah berlari lebih dulu, menembus terowongan gelap.
Ravi tersentak kembali pada dirinya. Ia mengikuti Ardea, tapi langkahnya
berat—karena suara itu masih bergema, memanggil, seakan mengenal dirinya lebih
baik daripada siapa pun.
Satu kalimat terakhir terdengar sebelum cahaya di ruangan padam:
"Dan akhirnya… kamu kembali padaku."
Lalu semuanya gelap.

0 Komentar