JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (19)

 

Es Es - Ikon Blog

BAYANGAN YANG MENGIKUTI MEREKA

Ketukan itu berhenti tiba-tiba.
Sunyi merambat seperti kabut dingin di lorong arka yang terus bergeser mengikuti langkah mereka.

Ravi mengangkat obor sedikit lebih tinggi. “Dia tahu kita mendekat.”

Ardea merapat pada dinding, tombak siaga. “Atau dia sengaja menunggu kita.”

Liora menggenggam lengannya sendiri. Ada sesuatu dalam tubuhnya—resonansi asing—yang terasa seperti ingin meledak setiap kali suara ketukan itu muncul. Seolah memori yang bukan miliknya mencoba membuka pintu terlalu cepat.

“Aku merasa… dia sedang memanggilku,” bisiknya gemetar.

Nadara menatap Liora dengan pandangan tajam yang tidak biasa. “Itu yang membuatku khawatir. Resonansi itu bukan sambutan. Itu… permintaan.”
Ia menekankan kata itu perlahan. “Permintaan untuk kembali.”

“Kembali ke siapa?” Ardea bertanya.

Nadara menghela napas. “Ke sumber asal fragmen ingatannya. Seseorang yang memiliki hubungan langsung dengan inti arka.”

Liora memucat. “Jadi… jejak tadi…”

“Bisa jadi,” potong Nadara, “adalah seseorang yang pernah hilang bersama arka sebelum dunia melupakan keberadaannya.”


Saat mereka mendekati ruangan terbuka berikutnya, cahaya biru yang tadi menuntun mereka meredup perlahan, seperti nyala lilin yang kelelahan.

Ravi memperlambat langkah.
“Tidak wajar arka membentuk jalur begitu panjang hanya untuk menunjukkan jejak seseorang.”

“Aku juga berpikir begitu,” jawab Nadara. “Lorong ini diciptakan untuk kita melihatnya. Seolah dia ingin menunjukkan bahwa ia masih hidup.”

Ardea menambahkan, “Atau mengingatkan seseorang—”
Dia melirik Liora.
“—bahwa ia belum selesai denganmu.”

Liora menggigit bibir bawahnya. “Kenapa semua ini terasa seperti bagian hidupku yang aku sendiri tidak tahu?”

Ravi menatapnya lembut. “Karena arka menyembunyikan terlalu banyak dari kita semua.”


Akhir lorong terbuka pada sebuah aula raksasa. Atapnya melengkung tinggi seperti langit-langit katedral kuno, penuh dengan ukiran simbol yang bergerak pelan—hidup, bukan statis.

Di tengah aula, sebuah pilar kristal berdiri, memancarkan cahaya redup.

Dan… ada bayangan berdiri di belakang pilar itu.
Bukan cahaya hologram—bukan ilusi.

Seseorang.
Tubuh nyata.

Ravi mengangkat obor, mencoba melihat lebih jelas. Tapi bayangan itu memantulkan cahaya seperti sedang melindungi wajahnya.

“Siapa kau?” Ardea berseru, memantul di ruang luas itu.

Tak ada jawaban.

Bayangan itu hanya miring sedikit, seolah mendengarkan suara mereka—atau menimbang apakah harus menampakkan diri.

Liora melangkah maju tanpa sadar.

“Jangan!” Ravi menariknya kembali.

“Aku mengenal energi itu…” Liora berbisik. “Ada sesuatu di dalam tubuhku yang bereaksi kepadanya.”

Nadara setengah berlari mendekat pada simbol-simbol di pilar. “Ini buruk. Sangat buruk. Pilar ini adalah Fokus Memori. Dia bisa memanggil atau membangkitkan fragmen ingatan siapa pun yang pernah terikat pada arka.”

“Termasuk Liora,” ucap Ardea pelan.

Nadara mengangguk.

“Termasuk siapa pun yang jejaknya masih tersisa di dalam arka ini.”


Suara langkah lembut terdengar.
Bayangan itu bergerak selangkah ke depan—dan untuk pertama kalinya mereka melihat detailnya.

Seorang pemuda.

Ravi membeku. “Dia… sama.” Sebuah memori purba melintas di kepalanya.

Liora bergetar. “Dia ini… siapa? Kenapa aku merasa seperti pernah berjalan bersamanya?”

Pemuda itu berhenti.
Tidak mendekat, tidak mundur.
Hanya berdiri, menatap mereka seolah mencoba mengingat sesuatu yang hilang.

Nadara melangkah maju. “Jika kau bisa mendengar kami—siapa pun kau—katakan namamu. Atau beri kami tanda.”

Pemuda itu menundukkan kepala sedikit… lalu mengangkat tangan, menunjuk langsung ke arah Liora.

Semua menghirup napas dalam bersamaan.

“Kenapa aku?” suara Liora pecah.

Pemuda itu membuka mulutnya perlahan.

Namun sebelum ada suara keluar—
Pilar kristal menyala terang.

Terlalu terang.

“Menjauh!” Nadara berteriak.

Cahaya pecah menjadi lingkaran energi yang meluas dengan cepat. Ravi menarik Liora ke belakang, Ardea menutupi wajah, dan Nadara mencoba menstabilkan simbol yang meloncat-loncat tak terkendali.

Dalam sekejap—
Bayangan pemuda itu hilang, seperti dihapus oleh cahaya arka.

Aula kembali tenang.

Namun sesuatu berubah.

Pilar itu kini memperlihatkan gambar samar… bukan hologram atau proyeksi.

Memori.
Gambar hidup yang menempel pada kristal seperti luka lama yang terbuka lagi.

Liora mundur satu langkah dengan napas tersengal.

“Itu…”
Suaranya bergetar.

Ravi menatap pilar.
Dalam memori singkat itu, terlihat seorang gadis kecil—wajahnya sangat mirip Liora, namun lebih muda—berjalan bersama pemuda tadi, melewati jembatan arka yang sama seperti tempat mereka berdiri sekarang.

Ardea melongo. “Liora… kau punya saudara?”                                                                             

Ardea dan ravi menatap ke arah yang sama.                                                                                             

“Kenapa kalian menatapku seperti itu” Ujar Nadara setengah berbisik, “Apa kau mengingat sesuatu, Liora?” lanjutnya.

“Aku tidak ingat apa pun…” Liora memegangi kepalanya, gemetar hebat. “Tapi… kenapa tubuhku merespons? Kenapa memori itu terasa nyata?”

Ravi meraih bahunya. “Tenang. Kita akan memahaminya satu per satu.”

Namun Nadara menatap pilar dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Matanya melirik Liora. “Itu bukan hanya memori masa lalu,” bisiknya.

Ravi mengernyit. “Apa maksudmu?”

Nadara menelan ludah. “Memori itu baru. Fragmen itu masih aktif.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Yang berarti… pemuda itu masih hidup. Dan ia masih berada di dalam arka ini.”

Seluruh ruangan seakan menghela napas bersamaan.

Ardea menatap lorong gelap di belakang pilar. “Dan dia… tidak sendirian.”


back  -------------  next

Posting Komentar

0 Komentar