Ravi mengangkat obor sedikit lebih
tinggi. “Dia tahu kita mendekat.”
Ardea merapat pada dinding, tombak
siaga. “Atau dia sengaja menunggu kita.”
Liora menggenggam lengannya sendiri.
Ada sesuatu dalam tubuhnya—resonansi asing—yang terasa seperti ingin meledak
setiap kali suara ketukan itu muncul. Seolah memori yang bukan miliknya mencoba
membuka pintu terlalu cepat.
“Aku merasa… dia sedang
memanggilku,” bisiknya gemetar.
“Kembali ke siapa?” Ardea bertanya.
Nadara menghela napas. “Ke sumber
asal fragmen ingatannya. Seseorang yang memiliki hubungan langsung dengan inti
arka.”
Liora memucat. “Jadi… jejak tadi…”
“Bisa jadi,” potong Nadara, “adalah
seseorang yang pernah hilang bersama arka sebelum dunia melupakan
keberadaannya.”
Saat mereka mendekati ruangan
terbuka berikutnya, cahaya biru yang tadi menuntun mereka meredup perlahan,
seperti nyala lilin yang kelelahan.
“Aku juga berpikir begitu,” jawab
Nadara. “Lorong ini diciptakan untuk kita melihatnya. Seolah dia ingin
menunjukkan bahwa ia masih hidup.”
Liora menggigit bibir bawahnya.
“Kenapa semua ini terasa seperti bagian hidupku yang aku sendiri tidak tahu?”
Ravi menatapnya lembut. “Karena arka
menyembunyikan terlalu banyak dari kita semua.”
Akhir lorong terbuka pada sebuah
aula raksasa. Atapnya melengkung tinggi seperti langit-langit katedral kuno,
penuh dengan ukiran simbol yang bergerak pelan—hidup, bukan statis.
Di tengah aula, sebuah pilar kristal
berdiri, memancarkan cahaya redup.
Ravi mengangkat obor, mencoba
melihat lebih jelas. Tapi bayangan itu memantulkan cahaya seperti sedang
melindungi wajahnya.
“Siapa kau?” Ardea berseru, memantul
di ruang luas itu.
Tak ada jawaban.
Bayangan itu hanya miring sedikit,
seolah mendengarkan suara mereka—atau menimbang apakah harus menampakkan diri.
Liora melangkah maju tanpa sadar.
“Jangan!” Ravi menariknya kembali.
“Aku mengenal energi itu…” Liora
berbisik. “Ada sesuatu di dalam tubuhku yang bereaksi kepadanya.”
Nadara setengah berlari mendekat
pada simbol-simbol di pilar. “Ini buruk. Sangat buruk. Pilar ini adalah Fokus
Memori. Dia bisa memanggil atau membangkitkan fragmen ingatan siapa pun yang
pernah terikat pada arka.”
“Termasuk Liora,” ucap Ardea pelan.
Nadara mengangguk.
“Termasuk siapa pun yang jejaknya
masih tersisa di dalam arka ini.”
Ravi membeku. “Dia… sama.” Sebuah
memori purba melintas di kepalanya.
Liora bergetar. “Dia ini… siapa?
Kenapa aku merasa seperti pernah berjalan bersamanya?”
Nadara melangkah maju. “Jika kau
bisa mendengar kami—siapa pun kau—katakan namamu. Atau beri kami tanda.”
Pemuda itu menundukkan kepala
sedikit… lalu mengangkat tangan, menunjuk langsung ke arah Liora.
Semua menghirup napas dalam
bersamaan.
“Kenapa aku?” suara Liora pecah.
Pemuda itu membuka mulutnya
perlahan.
Terlalu terang.
“Menjauh!” Nadara berteriak.
Cahaya pecah menjadi lingkaran
energi yang meluas dengan cepat. Ravi menarik Liora ke belakang, Ardea menutupi
wajah, dan Nadara mencoba menstabilkan simbol yang meloncat-loncat tak
terkendali.
Aula kembali tenang.
Namun sesuatu berubah.
Pilar itu kini memperlihatkan gambar
samar… bukan hologram atau proyeksi.
Liora mundur satu langkah dengan
napas tersengal.
Ardea
melongo. “Liora… kau punya saudara?”
Ardea dan
ravi menatap ke arah yang sama.
“Kenapa
kalian menatapku seperti itu” Ujar Nadara setengah berbisik, “Apa kau mengingat
sesuatu, Liora?” lanjutnya.
“Aku tidak ingat apa pun…” Liora
memegangi kepalanya, gemetar hebat. “Tapi… kenapa tubuhku merespons? Kenapa
memori itu terasa nyata?”
Ravi meraih bahunya. “Tenang. Kita
akan memahaminya satu per satu.”
Namun Nadara menatap pilar dengan
wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Matanya melirik Liora. “Itu bukan hanya
memori masa lalu,” bisiknya.
Ravi mengernyit. “Apa maksudmu?”
Seluruh ruangan seakan menghela
napas bersamaan.
Ardea menatap lorong gelap di
belakang pilar. “Dan dia… tidak sendirian.”

0 Komentar