JEJAK YANG MENGIKAT NAMA MEREKA
Lorong di depan mereka terasa
seperti menelan suara. Setelah pilar kristal memunculkan memori hidup yang
seharusnya tidak ada lagi, suasana menjadi berat—terlalu berat—seolah arka
sendiri menahan napas.
Ravi menatap gelap di ujung lorong.
“Dia masih hidup,” ucapnya, mengulang kata-kata Nadara, tapi kini dengan
getaran yang tak ia sembunyikan. “Dan dia tidak sendirian.”
“Kalau begitu,” Ardea memutar
tombaknya, “kita tidak boleh diam di sini.”
Namun langkah pertama yang ia ambil
bergema aneh. Suara pantulannya tidak lurus—seolah ada langkah lain yang
mengikuti, tapi setengah detik terlambat.
Liora mengusap lengan. “Ardea… kau
dengar itu?”
“Ya,” jawabnya pelan. “Tapi
suaranya… seperti datang dari bawah lantai.”
Nadara berdiri di depan pilar
kristal, jemarinya bergerak menyentuh simbol-simbol yang masih bergetar lemah.
“Arka mengubah struktur ruangnya lagi. Ini pertanda bahwa sesuatu sedang
bergerak di dalamnya.”
“Pemuda itu?” Ravi bertanya.
Nadara menggeleng. “Bukan hanya dia.
Ada yang lebih besar bergerak bersamanya.”
Ardea mendecak. “Bagus. Satu makhluk
misterius belum cukup.”
“Tolong jangan bercanda,” Liora
menggenggam dadanya. “Rasanya… ada sesuatu yang menarikku ke arah sana.”
Ravi mendekat, memegang bahunya.
“Kalau kau merasa tidak kuat—”
“Aku kuat,” potong Liora. “Tapi
tubuhku tidak suka kebohongan. Dan sekarang, seluruh arka ini terasa… jujur.”
Mereka saling berpandangan.
Arka jujur?
Ravi menghela napas keras. “Baik.
Kita lanjut sebelum arka memutuskan menelan kita.”
==========
Lorong
bergerak sebelum mereka melangkah.
Lantai di depan mereka memanjang,
seperti pita yang ditarik tangan tak terlihat. Cahaya biru menipis menjadi
garis-garis sempit yang berdenyut lambat. Udara berubah lebih dingin dan
mengandung bau logam basah.
Ravi berjalan pertama. Liora berada
tepat di belakangnya. Nadara menyesuaikan ritme langkahnya, dan Ardea menjaga
belakang.
Namun semakin jauh mereka masuk,
semakin aneh lorong itu terasa.
Atapnya berubah tinggi—lalu rendah.
Dindingnya kadang bergetar—kadang
seperti bernapas.
Dan beberapa kali, Ravi menghentikan
langkahnya karena merasa ada seseorang berjalan di sampingnya.
Padahal tidak ada siapa pun.
“Rasanya… kita tidak sendirian,”
ucap Ravi.
“Kita memang tidak,” jawab Nadara.
“Arka sedang… mengingat kita. Melihat kita. Menilai kita.”
“Seperti… memilih?” Liora bertanya.
Nadara tidak menjawab.
==========
Sebuah
bunyi halus terdengar.
“Drrr—krek—krrr…”
Ardea menajamkan pendengaran. “Dari
mana itu?”
“Dari dinding,” Ravi menunjuk.
Dinding yang ia tunjuk tiba-tiba
memunculkan retakan tipis cahaya. Retakan itu membuka perlahan seperti kelopak
bunga yang patah. Dari dalamnya muncul… bukan makhluk, bukan bayangan.
Tapi memori.
Bentuknya seperti siluet manusia,
transparan, bergerak lambat—seperti seseorang yang berjalan melewati ruang
berbeda, tetapi tercetak ke dinding mereka.
Liora hampir tersandung mundur.
“Itu…”
“Abaikan!” Nadara menariknya. “Itu
bukan makhluk hidup. Itu sisa jejak, seperti bayangan langkah yang terekam
lantai.”
“Jadi seseorang pernah berjalan di
sini?” Ravi bertanya.
Nadara menatap dinding itu
dalam-dalam.
“Bukan seseorang,” ucapnya.
“Beberapa orang.”
Ravi memicingkan mata. Jejak itu
memanjang—dua sosok—ukuran tubuh mereka berbeda. Yang satu tinggi, yang satu
lebih kecil. Mereka seperti berjalan seiring… menuju arah yang sama dengan
mereka.
Liora menelan ludah. “Mereka…”
“Jangan tebak,” kata Nadara cepat.
“Jejak bisa menipu. Bisa sembarang menempel.”
Tapi wajahnya tidak meyakinkan.
Ardea memperhatikan retakan yang
menutup kembali. “Kalau itu memori, artinya seseorang pernah melintasi lorong
ini sebelum kita?”
Nadara mengangguk berat. “Dan
waktunya… tidak terlalu lama.”
Ravi merasakan kulit tengkuknya
meremang. “Jadi pemuda itu benar-benar baru saja berada di sini.”
“Itu kemungkinan besar.” Nadara
menatap gelap di depan. “Dan dia meninggalkan jejak bukan tanpa alasan.”
Getaran
lembut mengguncang lantai.
Bukan gempa.
Bukan juga langkah kaki.
Lebih mirip… denyut jantung raksasa.
“Dengar,” bisik Liora, matanya
membelalak. “Itu ritme yang sama seperti dalam tubuhku…”
Ravi langsung menoleh cepat.
“Liora?”
Ia menggeleng, bingung dan takut.
“Bukan aku—bukan tubuhku pergolakannya. Tapi resonansinya sama. Seperti…
seperti ada sesuatu yang diselaraskan denganku.”
Ardea bergerak refleks, berdiri
sedikit di depan Liora. “Kalau ada yang berani—”
“Tunggu,” Nadara mengangkat tangan.
“Itu bukan ancaman. Itu panggilan.”
“Panggilan dari siapa?” tanya Ravi.
Nadara menjawab dengan suara yang
hampir tak terdengar.
“Dari pusat arka.”
Ravi merasakan udara menegang.
“Pusat arka memanggil… Liora?”
“Nanti saja kita bicarakan.” Nadara
menurunkan suaranya. “Yang penting sekarang: semua resonansi diarahkan ke satu
titik… semakin kuat.”
Ardea menatap kegelapan yang semakin
menutup lorong di depan mereka. “Kita mengejar pemuda misterius itu, bukan?”
“Kenapa?”
Liora menggigit bibir. Tangannya
bergetar. “Aku tidak mengenalnya…”
“Tapi tubuhmu mengenali,” kata
Nadara lembut. “Dan itu lebih berbahaya.”
==========
Arka
berubah bentuk.
Ada suara retak panjang di
atas kepala mereka. Simbol-simbol biru jatuh seperti serpihan cahaya dan
membentuk pola aneh di udara.
Ravi mengangkat obor lebih tinggi.
“Apa lagi itu?”
“Sistem peringatan,” jawab Nadara.
“Arka sedang mengganti struktur ruang.”
Dan benar saja.
Lorong di depan mereka bergerak
perlahan, memanjang… kemudian membentuk percabangan.
Tiga jalan.
Semua gelap.
Semua berdenyut dengan energi yang
sama.
Ravi menggeram. “Tentu saja. Arka
selalu membuat segalanya rumit.”
Nadara memejamkan mata, mendengarkan
sesuatu yang tidak terdengar bagi yang lain. “Jalan tengah… itu yang paling
stabil.”
“Dan paling berbahaya?” Ardea
menyeringai masam.
“Biasanya begitu.”
Liora mendekat ke jalan tengah.
Tubuhnya berhenti bergetar. Napasnya berubah stabil, seolah ia akhirnya
menemukan ritme yang cocok.
“Di sini,” katanya perlahan.
Ravi langsung maju dan berdiri di
sampingnya. “Kalau itu membuatmu tenang, kita ambil jalur ini.”
Ardea memutar tombaknya. “Dan kalau
ada yang menunggu di ujung, aku yang pertama memukul.”
Nadara menghela napas, lalu ikut
berjalan. “Dia tidak akan memukul. Kalau seseorang menunggu, dia memanggil.”
Ucapan itu membuat Liora kembali
menggigil.
==========
Mereka
berjalan semakin dalam.
Semakin gelap.
Semakin sempit.
Cahaya biru meredup sampai hampir
padam.
Ardea beberapa kali menoleh ke
belakang. “Rasanya seperti ada yang berjalan di belakang kita.”
“Tidak ada apa pun,” jawab Ravi
tanpa yakin.
“Tidak ada yang terlihat,”
koreksi Ardea.
Nadara mempercepat langkahnya. “Ayo.
Kita harus keluar dari jalur ini sebelum perubahan ruang berikutnya.”
Liora berkata pelan, “Kenapa aku
merasa lorong ini… mengenal kita satu per satu?”
Nadara menatapnya, tatapan yang
tidak biasanya penuh kecemasan.
“Karena itu kenyataannya.”
==========
Akhir
lorong mulai terlihat.
Sebuah ruangan samar dengan cahaya
biru lembut menunggu di depan mereka.
Ravi menajamkan mata. “Itu…”
Lantai bergetar.
Dan suara yang dalam, seperti gema
dari tempat sangat jauh—sangat tua—mengalun pelan.
Liora terpaku. “Aku… mendengar
sesuatu.”
“Liora?” Ravi memegangi lengannya.
Ia menatap ruang itu dengan mata
membesar. “Ada seseorang… memanggilku.”
Nadara menutup mulutnya, dan
ketakutannya terlihat jelas.
Ravi menyipitkan mata.
Ardea bersumpah pelan. “Itu dia…”
Ravi merasakan jantungnya berhenti
sekejap.
Liora menutup mulutnya dengan
tangan. “Kenapa… aku merasa dia mengenalku?”
Ravi menariknya mundur setengah
langkah.
Nadara berbisik,
“Karena dia tahu namamu… bahkan
sebelum kita menyebutnya.”
Lalu cahaya biru padam seketika—
Dan kegelapan menggulung ruangan
itu.

0 Komentar