JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (21)

 

Es Es - Ikon Blog

BAYANGAN YANG TUMBUH DI DALAM LIORA

Lorong bawah Arka menjadi lebih sempit semakin jauh mereka melangkah. Cahaya biru di dinding berubah menjadi garis-garis tipis yang berdenyut pelan, seperti nadi makhluk raksasa yang bernapas sangat perlahan.

Ravi berjalan di depan, tetapi sesekali menoleh, memastikan Liora baik-baik saja.
Karena sejak pemuda misterius itu muncul… dan sejak memori di pilar menampakkan gadis kecil yang mirip dirinya… Liora tidak lagi sama.

Napasnya lebih berat.
Tatapannya kosong sesekali.
Dan di beberapa momen, ia berhenti seolah mendengarkan suara yang tidak didengar orang lain.

Ardea akhirnya tak tahan. “Liora, kau yakin bisa lanjut?”

Liora tersenyum kecil, tetapi senyumnya tidak utuh.
“Aku bisa. Hanya… sulit menjelaskan apa yang tubuhku rasakan.”

“Coba,” Ravi mendekat sedikit. “Jelaskan semampumu.”

Liora memejamkan mata. “Ada… sesuatu yang tumbuh di dalam diriku. Bukan benda. Bukan ingatan. Tapi seperti… bayangan seseorang.”
Ia membuka matanya.
“Dan bayangan itu semakin jelas setiap kali kita mendekati inti arka.”

Nadara berhenti menulis dan menatap Liora serius. “Itu bukan hal kecil. Arka bisa mengikat memori seseorang pada tubuh orang lain. Kalau fragmen itu semakin kuat…”

Liora menghela napas. “Aku takut, Nadara. Aku takut kehilangan diriku sendiri.”

Ravi menatapnya lebih lama daripada yang ia sadari.
Ia merasakan sesuatu yang tidak ia mengerti… tetapi ia tahu ia tidak bisa membiarkan Liora melebur menjadi seseorang lain.

“Kita jaga kamu,” katanya akhirnya. “Apapun yang terjadi.”

Ardea menambahkan, “Dan kalau bayangan itu mencoba mengambil alih, aku akan—”

Ravi melotot. “Ardea.”

Ardea mengangkat tangan. “Baik. Baik. Maksudku kita akan menghentikannya. Dengan cara yang baik.”

Liora terkekeh kecil meski wajahnya tetap pucat.

Namun tepat saat mereka hendak berjalan lagi—

Arka bergetar.

Begitu halus, tetapi jelas.
Sesuatu berubah di ruangan berikutnya.


Mereka memasuki chamber besar yang berbentuk setengah kubah. Cahaya biru bergerak pelan di langit-langit, membentuk pola yang seperti mencoba bercerita tetapi belum utuh.

Di tengah ruangan:
sebuah sumur cahaya, memancarkan pusaran biru yang turun ke kedalaman tak terlihat.

Ravi menyipitkan mata. “Apa ini?”

Nadara menelan saliva. “Sumur Memori. Inti kedua sebelum ruang utama.”

Ardea memutar tombak di tangannya. “Dan biasanya… kalau ada sumur seperti ini, pasti ada penjaganya.”

Belum sempat kata-kata itu selesai—

Suara langkah.

Bukan langkah pemuda yang tadi.
Langkah ini lebih berat.
Lebih mantap.
Dan lebih sadar bahwa ia sedang mendekat ke mereka.

Ravi mengangkat obor tinggi. “Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban… hanya siluet tinggi yang muncul dari lorong seberang.
Bayangan itu berhenti di pinggir cahaya biru sumur dan menatap mereka.

Ardea menggeram kecil. “Bukan dia. Bukan pemuda tadi.”

Nadara tersentak. “Bukan. Ini… lebih tua. Jauh lebih tua.”

Siluet itu mengambil satu langkah ke cahaya—

Dan cahaya memperlihatkan wajahnya.

Liora menutup mulut, menahan napas.
Ardea memutar tombak lebih cepat.
Ravi merasakan jantungnya hampir berhenti.

Sosok itu…
adalah pria tua dengan mata putih keperakan.
Namun tubuhnya tidak rapuh.
Ia berdiri tegap seperti penjaga kuil kuno.

Dan ketika ia menatap Liora—

Liora langsung memucat.

“Aku mengenal wajah itu…” bisiknya. “Tapi aku… tidak tahu darimana.”

Pria itu mengangkat tangannya perlahan.

“Liora,” katanya dengan suara yang dalam, tua… dan sangat mengenal namanya.
“Kau masih hidup.”

Ravi merapat, memblok Liora secara refleks. “Siapa kau?”

Pria itu tidak menjawab Ravi.
Tatapannya tertuju pada Liora saja.

“Aku… adalah penjaga sementara dari fragmen yang tinggal di tubuhmu. Dan aku datang untuk memperingatkanmu.”

Nadara maju dua langkah. “Peringatan apa?”

Pria itu menatap sumur biru.

“Bayangan di dalam dirimu… sedang tumbuh terlalu cepat. Jika tidak dihentikan sebelum kalian mencapai pusat arka… ia akan mengambil alih sepenuhnya.”

Liora terbelalak. “Mengambil… alih?”

Pria itu menatapnya dengan mata yang seperti telah melihat ratusan tahun.

“Liora… aku tidak datang untuk melukai kalian. Aku datang untuk mengatakan hal yang kalian semua perlu tahu.”

Ia berhenti.
Menghela napas.
Lalu berkata:

“Bayangan itu bukan memori.”
Ia menatap lebih dalam.
“Itu adalah jiwa seseorang yang pernah hilang bersama inti arka.”

Ravi merasakan tubuhnya dingin.

Ardea memegang tombaknya lebih kuat.

Nadara benar-benar kehilangan kata.

Dan Liora…

tidak bisa bernapas.

Pria itu menutup matanya sejenak.

“Seseorang yang… pernah sangat dekat denganmu.”

Sepersekian detik selanjutnya …

Sumur cahaya bergetar hebat.
Cahaya biru menyembur ke udara.
Dan untuk pertama kali—

Bayangan di dalam tubuh Liora menampakkan wujudnya.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar