Ketika
Bayangan Itu Membuka Mata
Sumur cahaya meledak ke udara
seperti denyut jantung Arka yang akhirnya terbangun setelah ratusan tahun
tertidur. Cahaya biru membentuk pusaran besar di atas mereka, dan dari dalam
cahaya itu, sesuatu keluar dari tubuh Liora.
Tetapi siluet manusia
yang tersusun dari serpihan-serpihan cahaya, seperti riak air yang mencoba
menjadi tubuh. Wajahnya belum jelas, hanya garis-garis abstrak yang bergetar
seakan berusaha mengingat bentuknya sendiri.
Liora terhuyung, memegang kepalanya.
“Dia… dia ingin keluar…!”
Ravi menangkap bahunya. “Bertahan,
Liora! Kau bukan wadahnya!”
Pria tua itu memejamkan mata berat.
“Aku tahu kau akan muncul.”
Bayangan itu bergetar… sebelum
memunculkan suara seperti gema dari beberapa suara sekaligus:
“Tidak ada lagi waktu…”
Nadara mundur satu langkah. “Dia
bicara?”
“I-iya…” Ardea menelan ludah. “Dan
suaranya… bukan suara satu orang.”
Bayangan itu berbalik perlahan ke
arah Liora.
Seketika tubuh gadis itu menegang
keras—seperti seseorang menarik napasnya dari dalam.
“Liora!” Ravi mengguncangnya.
Bayangan itu menjangkau Liora, dan
saat ujung jarinya yang bercahaya menyentuh bahu gadis itu—
Brak!
Ardea menebasnya cepat dengan
tombaknya, memotong kontak.
Cahaya di ruangan meredup sesaat
akibat benturan energi.
Ardea mendesis, “Jangan sentuh dia!”
Penjaga tua itu mengangkat tangan.
“Cukup.”
Ia menatap Ravi, Ardea, dan Nadara
satu per satu.
“Kalian salah memahami ini. Bayangan
itu bukan ingin mengambil tubuh Liora… tetapi ingin menyatu kembali
dengannya.”
Liora mengguncang kepala. “Aku… aku
tidak mengenal dia…”
Penjaga tua itu menatapnya dengan
kesedihan tak terjelaskan.
Bayangan itu bergetar kuat, lalu
berbicara lagi:
“Sebelum Arka runtuh… aku berjanji
akan kembali kepadamu…”
Ravi memutar kepala cepat ke Liora.
“Apa maksudnya itu?”
Liora menutup telinga. “Aku tidak
mau! Suara itu… rasanya terlalu dekat… tapi juga asing! Seperti… seperti
sesuatu yang pernah kucintai tapi tidak pernah kuingat!”
Ravi merasakan sesuatu yang menusuk
dadanya.
Bayangan itu meraih Liora lagi—kali
ini lebih cepat.
Ravi mencoba mendorong Liora
menjauh—tapi sentuhan bayangan itu lebih dulu mencapai tubuh gadis itu.
Liora tersedak keras.
Ravi, Ardea, dan Nadara terlempar
mundur oleh letusan energi.
Penjaga tua itu berteriak, “JANGAN
PAKSA! KALIAN BERDUA BELUM SIAP—”
Namun terlambat.
Liora menjerit.
Bayangan itu menghilang.
Cahaya mereda.
Dan ketika semuanya kembali
terlihat—
Liora berdiri di tengah ruangan.
Sendirian.
Ravi bangkit, terpincang. “Liora…?”
Gadis itu menatapnya—
dan tersenyum tipis.
Bukan senyum Liora.
Senyuman seseorang lain yang kini
berbicara melalui tubuhnya.
“Akhirnya aku kembali.”
Ardea menyumpah pelan. “Sial… DI
SINI TERJADI FUSI.”
Nadara menutup mulutnya. “Liora…
tidak sepenuhnya hilang. Tapi dia tidak sendirian lagi.”
Ravi menggenggam obornya lebih kuat.
“Liora… kalau kau masih bisa
mendengar kami… bertahanlah. Kami akan menyelamatkanmu.”
Tubuh Liora—atau sosok yang kini
mengendalikan tubuh itu—memiringkan kepala.
Ia tersenyum lagi.
“Aku datang karena hanya Liora yang
bisa membuka jalan menuju inti Arka… dan hanya aku yang tahu bagaimana
caranya.”
Cahaya biru menyebar dari telapak
kaki Liora, merambat ke seluruh chamber.
Penjaga tua itu gemetar.
“Dia baru saja mengaktifkan jalur
menuju inti.”
Ardea memaki.
Nadara menggenggam lengan Ravi.
Ravi menatap lurus ke arah gadis
itu.
Sementara
Penjaga tua itu lenyap memudar, membentuk bayangan lalu kabut lalu menipis dan
hilang tak berbekas. Tugasnya selesai.
Liora ambruk. Ravi bergerak menangkap nya.
"Liora sudah kembali," kata Nadara, "Tunggu ia bangun."

0 Komentar