LORONG GAUNG YANG MENOLAK
DIAM
Langkah mereka terdengar jelas di
lorong kuno itu—terlalu jelas, bahkan, sampai Ravi merasakan ada sesuatu yang
mengulang gema langkah mereka dengan jeda setengah detik lebih lambat. Seolah
ada yang mengikuti. Atau meniru.
Obor kecil di tangan Ravi
berkedip-kedip, cahayanya merangkak di dinding-dinding batu yang dipenuhi
ukiran berbentuk spiral dan garis patah yang menyatu seperti aliran sungai.
Ukiran itu tampak baru saja menyala tipis dalam cahaya kebiruan saat mereka
melewatinya, seolah dinding itu bukan benda mati, melainkan makhluk yang
merespons kehadiran mereka.
Nadara berjalan perlahan sambil
meraba salah satu ukiran yang berpendar. “Ini berbeda dari pintu masuk tadi,”
gumamnya. “Resonansi energinya lebih kuat. Dan lebih… sadar.”
Ardea memutar mata namun tetap
waspada. “Sadar? Aku lebih suka kalau dinding itu tidak punya kesadaran.”
Liora berhenti tiba-tiba. “Tunggu.”
Ravi menoleh. “Ada apa?”
“Ada suara,” katanya lirih.
Suara itu—awalnya seperti gumaman
jauh—perlahan berubah menjadi bisikan berlapis-lapis. Tidak jelas bahasanya,
tapi ritmenya seperti seseorang yang mencoba mengucapkan nama. Liora menutup
kedua telinganya, bukan karena sakit, tetapi karena suara itu masuk begitu
dalam ke pikirannya.
“Aku dengar…” katanya terputus.
“Seolah mereka sedang memanggilku. Tapi bukan hanya namaku. Seperti… memori.”
Ravi maju dan menyentuh bahu Liora.
“Apakah nyeri?”
“Tidak. Hanya berat. Seperti ada
pintu yang mencoba kubuka, tapi belum memiliki kuncinya.”
Nadara berjongkok dan mengamati
lantai. Ada garis melingkar halus yang baru muncul, mengikuti cahaya biru yang
merambat dari dinding. Pola itu merentang ke arah depan, menciptakan jalur
seperti jejak cahaya.
“Ini penanda,” kata Nadara, suaranya
berubah serius. “Biasanya hanya muncul jika orang yang haknya diakui oleh Arka
berada di dekat lokasi inti.”
Ardea mendecak. “Arka mengakui siapa?
Liora?”
“Sepertinya iya,” jawab Nadara. “Apa
pun fragmentasi yang ada dalam tubuhnya… Arka merespons.”
Liora menelan ludah, merasa campuran
antara takut dan terpanggil. “Kalau begitu, kita sebaiknya lanjut.”
====================
Lorong berubah bentuk semakin jauh
mereka masuk. Dindingnya tidak lagi halus, melainkan berundak-undak seperti
sisik raksasa. Sesekali mereka melihat simbol yang bergerak perlahan seakan
menggeser posisi, menyesuaikan diri dengan langkah mereka.
“Tempat ini hidup,” gumam Ravi tanpa
sadar.
“Kau baru sadar?” balas Ardea.
Namun jauh di balik ketegasannya,
Ravi tahu Ardea juga merasakan hal yang sama. Lorong ini tidak dibangun oleh
tangan manusia biasa—entah siapa, entah bagaimana, tapi semuanya terasa seperti
teknologi yang lebih tua dari usia dunia itu sendiri.
Mereka berhenti ketika lorong
tiba-tiba bercabang menjadi tiga arah. Sama-sama gelap. Sama-sama disegel oleh
kabut tipis yang menggantung seperti tirai.
“Ini jebakan klasik,” kata Ardea.
“Tidak,” sanggah Nadara. “Ini ujian.
Arka tidak menggunakan jebakan dalam arti melukai. Ia menggunakan seleksi.”
“Seleksi yang bagaimana?” tanya
Ravi.
Nadara menatap ketiga cabang itu.
“Pintu-pintu ini merespons siapa yang mencoba melewatinya. Jika pintunya tidak
cocok untuk seseorang, lorongnya akan menutup, mengembalikan mereka ke titik
sebelumnya. Jika cocok, lorong akan tetap terbuka.”
Ardea mengangkat alis. “Jadi kita
akan terpisah?”
“Jika Arka menghendakinya.”
Hening panjang mengikuti jawaban
itu.
Liora mengambil langkah pertama,
berdiri di antara ketiga cabang. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan bisikan
di kepalanya yang kini semakin teratur. Nada itu bukan ancaman; lebih seperti
panggilan yang menuntun.
Ia maju ke cabang tengah.
Kabut tipis bergetar pelan, lalu
terbuka seperti kain yang disibakkan angin. Cahaya biru lembut muncul dari
dalam.
“Itu jalanku,” kata Liora pelan,
hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Ravi menelan ludah. “Kalau begitu,
aku ikut.”
“Tidak,” jawab Liora cepat. “Pintu
ini tidak untukmu.”
Ravi ingin membantah, tetapi saat ia
mencoba melangkah ke arah yang sama, kabut di depan cabang tengah bergetar dan
mengeras seperti kaca. Pintu itu tidak menolak—tapi jelas tidak mengizinkan.
Ardea mencoba mendekat. Hasilnya
sama.
“Dengan kata lain,” gumam Ardea, “Arka
ingin dia masuk sendirian.”
“Kita tidak bisa membiarkannya,”
kata Ravi.
Namun sebelum perdebatan berlanjut,
Nadara menunjuk ke cabang kiri. “Cahaya itu bereaksi ketika kau bicara, Ravi.”
Cabang kiri menyala redup.
Dan cabang kanan menyala saat Ardea mendekatinya
satu langkah.
“Sial…” desis Adrea. “Jadi kita
memang harus masuk ke jalur berbeda.”
Nadara menarik napas panjang. “Aku
bisa memasuki lorong siapa pun. Tapi aku memilih untuk mengikuti energi yang
paling kuat resonansinya.”
Ia bergerak ke arah Liora—dan cabang
tengah menyala sedikit lebih terang. Tapi ketika ia mendekat ke arah Ravi,
cabang kiri malah padam.
“Kau bersama Ravi,” kata Nadara,
sedikit lega saat Ardea ke cabang kiri ada respon yang kuat.
Ardea mengangguk. “Energi Ravi tidak
stabil, tapi potensi responnya besar. Aku bisa mengawasinya.”
“Bagus,” kata Nadara, lalu ia
menatap cabang kanan. “Aku tidak suka sendirian, tapi sepertinya aku harus
melakukannya.”
“Jangan terlalu jauh,” Ravi
memperingatkan.
“Seolah aku bisa pergi kemana saja
di tempat yang bisa mengubah dindingnya sendiri,” balas Nadara sambil tersenyum
tipis.
Mereka saling memandang—sebuah momen
sunyi yang terasa lebih berat daripada yang bisa diucapkan. Kemudian, satu per
satu mereka memasuki lorong yang ditentukan untuk mereka.
Liora maju pertama. Kabut seolah
menyentuh tubuhnya lalu mempersilakan lewat seperti penjaga yang mengenali
tuannya. Cahaya biru menuntunnya masuk, lalu perlahan hilang dari pandangan.
Nadara memasuki cabang kanan. Kabut
itu bergetar sedikit, namun membuka jalan. Suara langkahnya memudar.
Ravi dan Ardea menghadap cabang
kiri. Lorong itu lebih gelap daripada dua lainnya, seperti menyimpan sesuatu
yang tidak ingin terburu-buru ditemukan.
“Siap?” tanya Ardea.
“Tidak,” kata Ravi jujur. “Tapi
tidak ada jalan lain.”
Mereka masuk bersama.
==========
Begitu melintasi kabut, suasananya
berubah drastis. Lorong Ravi dan Ardea lebih sempit, namun lantainya seperti
permukaan air yang membeku, memantulkan cahaya obor kecil Ravi dalam ribuan
kilau kecil. Simbol-simbol aneh muncul di permukaan, membentuk jejak yang
bergerak mendahului mereka.
“Apa kau perhatikan?” tanya Ardea.
“Apa?”
“Simbol-simbol ini muncul hanya
ketika kau melangkah.”
Ravi berhenti. Simbol turut
berhenti. Ia melangkah lagi, simbol kembali bergerak.
“Aku tidak mengerti.”
Ardea tersenyum samar. “Arka sedang
membaca keberadaanmu… mungkin menguji apakah kau layak mendampingi Liora ke
ruang inti nanti.”
Suara bisikan kembali
terdengar—tidak sebanyak yang dialami Liora, namun cukup membuat telinga Ravi
bergetar. Bukan bahasa, tetapi tekanan.
“Ada sesuatu yang mengamati kita,”
kata Ravi.
“Ada banyak hal yang mengamati
kita,” balas Ardea. “Tapi tidak semua bermusuhan.”
Mereka melanjutkan perjalanan,
mengikuti lorong yang berbelok-belok dan kadang naik turun seperti mengikuti
denyut jantung bumi. Semakin jauh mereka masuk, cahaya biru yang membimbing
semakin kuat, hingga akhirnya lorong terbuka ke sebuah ruangan kecil berbentuk
kubah.
Di tengah ruangan, sebuah lingkaran
batu melingkar dengan simbol berbentuk spiral ganda.
Ardea mendekat. “Ini… ruang
peralihan.”
“Peralihan?” ulang Ravi.
“Tempat terakhir sebelum mencapai
ruang utama. Liora pasti juga akan masuk ke ruang serupa, begitu juga Nadara,
tapi bentuknya mungkin berbeda.”
Ravi mengamati lingkaran batu itu.
“Kalau aku menginjaknya, apa yang terjadi?”
“Kita akan dibawa ke titik uji
terakhir.”
Ravi menarik napas.
“Ardea… kalau ujiannya memisahkan
kita lagi?”
Ardea meletakkan tangannya di bahu
Ravi. “Kau tidak sendirian. Apa pun bentuk ujiannya… aku akan tetap ada.”
Ravi mengangguk.
Mereka melangkah bersama ke dalam
lingkaran. Cahaya biru melonjak, menutupi pandangan, menghapus lorong di
belakang mereka.
Mereka lenyap ke dalam kilauan itu.

0 Komentar