JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (23)

 

Es Es - Ikon Blog

LORONG GAUNG YANG MENOLAK DIAM

Langkah mereka terdengar jelas di lorong kuno itu—terlalu jelas, bahkan, sampai Ravi merasakan ada sesuatu yang mengulang gema langkah mereka dengan jeda setengah detik lebih lambat. Seolah ada yang mengikuti. Atau meniru.

Obor kecil di tangan Ravi berkedip-kedip, cahayanya merangkak di dinding-dinding batu yang dipenuhi ukiran berbentuk spiral dan garis patah yang menyatu seperti aliran sungai. Ukiran itu tampak baru saja menyala tipis dalam cahaya kebiruan saat mereka melewatinya, seolah dinding itu bukan benda mati, melainkan makhluk yang merespons kehadiran mereka.

Nadara berjalan perlahan sambil meraba salah satu ukiran yang berpendar. “Ini berbeda dari pintu masuk tadi,” gumamnya. “Resonansi energinya lebih kuat. Dan lebih… sadar.”

Ardea memutar mata namun tetap waspada. “Sadar? Aku lebih suka kalau dinding itu tidak punya kesadaran.”

Liora berhenti tiba-tiba. “Tunggu.”

Ravi menoleh. “Ada apa?”

“Ada suara,” katanya lirih.

Suara itu—awalnya seperti gumaman jauh—perlahan berubah menjadi bisikan berlapis-lapis. Tidak jelas bahasanya, tapi ritmenya seperti seseorang yang mencoba mengucapkan nama. Liora menutup kedua telinganya, bukan karena sakit, tetapi karena suara itu masuk begitu dalam ke pikirannya.

“Aku dengar…” katanya terputus. “Seolah mereka sedang memanggilku. Tapi bukan hanya namaku. Seperti… memori.”

Ravi maju dan menyentuh bahu Liora. “Apakah nyeri?”

“Tidak. Hanya berat. Seperti ada pintu yang mencoba kubuka, tapi belum memiliki kuncinya.”

Nadara berjongkok dan mengamati lantai. Ada garis melingkar halus yang baru muncul, mengikuti cahaya biru yang merambat dari dinding. Pola itu merentang ke arah depan, menciptakan jalur seperti jejak cahaya.

“Ini penanda,” kata Nadara, suaranya berubah serius. “Biasanya hanya muncul jika orang yang haknya diakui oleh Arka berada di dekat lokasi inti.”

Ardea mendecak. “Arka mengakui siapa? Liora?”

“Sepertinya iya,” jawab Nadara. “Apa pun fragmentasi yang ada dalam tubuhnya… Arka merespons.”

Liora menelan ludah, merasa campuran antara takut dan terpanggil. “Kalau begitu, kita sebaiknya lanjut.”

====================

Lorong berubah bentuk semakin jauh mereka masuk. Dindingnya tidak lagi halus, melainkan berundak-undak seperti sisik raksasa. Sesekali mereka melihat simbol yang bergerak perlahan seakan menggeser posisi, menyesuaikan diri dengan langkah mereka.

“Tempat ini hidup,” gumam Ravi tanpa sadar.

“Kau baru sadar?” balas Ardea.

Namun jauh di balik ketegasannya, Ravi tahu Ardea juga merasakan hal yang sama. Lorong ini tidak dibangun oleh tangan manusia biasa—entah siapa, entah bagaimana, tapi semuanya terasa seperti teknologi yang lebih tua dari usia dunia itu sendiri.

Mereka berhenti ketika lorong tiba-tiba bercabang menjadi tiga arah. Sama-sama gelap. Sama-sama disegel oleh kabut tipis yang menggantung seperti tirai.

“Ini jebakan klasik,” kata Ardea.

“Tidak,” sanggah Nadara. “Ini ujian. Arka tidak menggunakan jebakan dalam arti melukai. Ia menggunakan seleksi.”

“Seleksi yang bagaimana?” tanya Ravi.

Nadara menatap ketiga cabang itu. “Pintu-pintu ini merespons siapa yang mencoba melewatinya. Jika pintunya tidak cocok untuk seseorang, lorongnya akan menutup, mengembalikan mereka ke titik sebelumnya. Jika cocok, lorong akan tetap terbuka.”

Ardea mengangkat alis. “Jadi kita akan terpisah?”

“Jika Arka menghendakinya.”

Hening panjang mengikuti jawaban itu.

Liora mengambil langkah pertama, berdiri di antara ketiga cabang. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan bisikan di kepalanya yang kini semakin teratur. Nada itu bukan ancaman; lebih seperti panggilan yang menuntun.

Ia maju ke cabang tengah.

Kabut tipis bergetar pelan, lalu terbuka seperti kain yang disibakkan angin. Cahaya biru lembut muncul dari dalam.

“Itu jalanku,” kata Liora pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Ravi menelan ludah. “Kalau begitu, aku ikut.”

“Tidak,” jawab Liora cepat. “Pintu ini tidak untukmu.”

Ravi ingin membantah, tetapi saat ia mencoba melangkah ke arah yang sama, kabut di depan cabang tengah bergetar dan mengeras seperti kaca. Pintu itu tidak menolak—tapi jelas tidak mengizinkan.

Ardea mencoba mendekat. Hasilnya sama.

“Dengan kata lain,” gumam Ardea, “Arka ingin dia masuk sendirian.”

“Kita tidak bisa membiarkannya,” kata Ravi.

Namun sebelum perdebatan berlanjut, Nadara menunjuk ke cabang kiri. “Cahaya itu bereaksi ketika kau bicara, Ravi.”

Cabang kiri menyala redup.

Dan cabang kanan menyala saat Ardea mendekatinya satu langkah.

“Sial…” desis Adrea. “Jadi kita memang harus masuk ke jalur berbeda.”

Nadara menarik napas panjang. “Aku bisa memasuki lorong siapa pun. Tapi aku memilih untuk mengikuti energi yang paling kuat resonansinya.”

Ia bergerak ke arah Liora—dan cabang tengah menyala sedikit lebih terang. Tapi ketika ia mendekat ke arah Ravi, cabang kiri malah padam.

“Kau bersama Ravi,” kata Nadara, sedikit lega saat Ardea ke cabang kiri ada respon yang kuat.

Ardea mengangguk. “Energi Ravi tidak stabil, tapi potensi responnya besar. Aku bisa mengawasinya.”

“Bagus,” kata Nadara, lalu ia menatap cabang kanan. “Aku tidak suka sendirian, tapi sepertinya aku harus melakukannya.”

“Jangan terlalu jauh,” Ravi memperingatkan.

“Seolah aku bisa pergi kemana saja di tempat yang bisa mengubah dindingnya sendiri,” balas Nadara sambil tersenyum tipis.

Mereka saling memandang—sebuah momen sunyi yang terasa lebih berat daripada yang bisa diucapkan. Kemudian, satu per satu mereka memasuki lorong yang ditentukan untuk mereka.

Liora maju pertama. Kabut seolah menyentuh tubuhnya lalu mempersilakan lewat seperti penjaga yang mengenali tuannya. Cahaya biru menuntunnya masuk, lalu perlahan hilang dari pandangan.

Nadara memasuki cabang kanan. Kabut itu bergetar sedikit, namun membuka jalan. Suara langkahnya memudar.

Ravi dan Ardea menghadap cabang kiri. Lorong itu lebih gelap daripada dua lainnya, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin terburu-buru ditemukan.

“Siap?” tanya Ardea.

“Tidak,” kata Ravi jujur. “Tapi tidak ada jalan lain.”

Mereka masuk bersama.

==========

Begitu melintasi kabut, suasananya berubah drastis. Lorong Ravi dan Ardea lebih sempit, namun lantainya seperti permukaan air yang membeku, memantulkan cahaya obor kecil Ravi dalam ribuan kilau kecil. Simbol-simbol aneh muncul di permukaan, membentuk jejak yang bergerak mendahului mereka.

“Apa kau perhatikan?” tanya Ardea.

“Apa?”

“Simbol-simbol ini muncul hanya ketika kau melangkah.”

Ravi berhenti. Simbol turut berhenti. Ia melangkah lagi, simbol kembali bergerak.

“Aku tidak mengerti.”

Ardea tersenyum samar. “Arka sedang membaca keberadaanmu… mungkin menguji apakah kau layak mendampingi Liora ke ruang inti nanti.”

Suara bisikan kembali terdengar—tidak sebanyak yang dialami Liora, namun cukup membuat telinga Ravi bergetar. Bukan bahasa, tetapi tekanan.

“Ada sesuatu yang mengamati kita,” kata Ravi.

“Ada banyak hal yang mengamati kita,” balas Ardea. “Tapi tidak semua bermusuhan.”

Mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti lorong yang berbelok-belok dan kadang naik turun seperti mengikuti denyut jantung bumi. Semakin jauh mereka masuk, cahaya biru yang membimbing semakin kuat, hingga akhirnya lorong terbuka ke sebuah ruangan kecil berbentuk kubah.

Di tengah ruangan, sebuah lingkaran batu melingkar dengan simbol berbentuk spiral ganda.

Ardea mendekat. “Ini… ruang peralihan.”

“Peralihan?” ulang Ravi.

“Tempat terakhir sebelum mencapai ruang utama. Liora pasti juga akan masuk ke ruang serupa, begitu juga Nadara, tapi bentuknya mungkin berbeda.”

Ravi mengamati lingkaran batu itu. “Kalau aku menginjaknya, apa yang terjadi?”

“Kita akan dibawa ke titik uji terakhir.”

Ravi menarik napas.

“Ardea… kalau ujiannya memisahkan kita lagi?”

Ardea meletakkan tangannya di bahu Ravi. “Kau tidak sendirian. Apa pun bentuk ujiannya… aku akan tetap ada.”

Ravi mengangguk.

Mereka melangkah bersama ke dalam lingkaran. Cahaya biru melonjak, menutupi pandangan, menghapus lorong di belakang mereka.

Mereka lenyap ke dalam kilauan itu.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar