Aku pernah tertawa terbahak—sendirian—saat mengucapkan pernyataan paling
klise yang sering dipakai orang kalah debat dengan hidup: biarlah miskin
yang penting bahagia. Lucunya, aku mengucapkannya dengan penuh keyakinan,
seperti orang yang sudah menamatkan dua jilid kehidupan: edisi miskin dan edisi
kaya. Padahal aku baru baca sampulnya saja.
Sejatinya pernyataanku itu seperti payung bocor. Tidak benar-benar
melindungi, tapi cukup untuk membuatku merasa sedang berusaha. Aku belum pernah
hidup dalam versi “kaya”, tapi sudah berani menyimpulkan bahwa kebahagiaan
tidak ada di sana. Ini seperti menolak makanan mahal sambil tetap berdiri di
luar restoran—belum pernah duduk, apalagi mencicipi. Tapi sudah berani
komentar, dan itu rasanya konyol.
Yang membuatku terpingkal justru keberanianku sendiri. Aku menolak sesuatu
yang belum pernah kutemui, lalu menyebutnya pilihan hidup. Padahal lebih mirip
pembelaan darurat. Kalimat yang penting bahagia terdengar dewasa,
padahal sering kali hanya versi halus dari “aku capek”. Ia muncul bukan setelah
pencerahan, tapi setelah kelelahan. Dan aku menepuk dada sendiri, seolah sudah
menang sparing dengan dunia—padahal
dunia tidak peduli.
Aku menggunakannya seperti stiker di retakan tembok. Dari jauh terlihat
baik-baik saja. Dari dekat, tetap retak. Tapi aku tersenyum sambil menatap
retakan itu, seolah mengerti semuanya, padahal hanya menunda dan menunggu
retakan berikutnya.
Lalu pikiranku iseng. Bagaimana jika ada orang yang dengan ikhlas mendoakanku
tetap miskin? Bukan karena benci, tapi karena peduli. Karena ia ingin aku
bahagia dengan cara yang membahagiakanku. Bisa jadi doa itu terdengar manis,
tapi rasanya seperti hadiah yang dibungkus rapi—isinya batu. Aku tidak tahu
harus berterima kasih atau merasa sedang disumpahi dengan sopan.
Doa itu pun terdengar aneh. Seperti mendoakan seseorang agar tetap demam
supaya ia lebih menghargai sehat. Logikanya tampak luhur, tapi dampaknya tetap
menggigil. Di baliknya seperti ada keyakinan sunyi: bahwa bahagia harus
ditemani kekurangan supaya sah. Bahwa kalau hidup terlalu nyaman, nanti jadi
mencurigakan.
Di situ aku berhenti menyalahkan siapa pun. Karena aku sadar, aku sendiri
yang pertama kali memeluk logika itu. Aku berlindung di balik kata “bahagia”
agar tidak perlu berurusan dengan kata “kurang”. Agar tidak perlu jujur bahwa
aku juga ingin tenang. Ingin cukup. Ingin tidak cemas tanpa harus pura-pura
bijak.
Akhirnya aku mengakui sesuatu yang agak memalukan. Selama ini aku mungkin
tidak sedang bersyukur, tapi sedang bersembunyi. Kalimat itu bukan prinsip
hidup, melainkan selimut tipis yang kutarik sampai dagu agar dingin realitas
tidak terlalu terasa. Hangat sesaat, tapi tetap saja menggigil.

0 Komentar