AKU INGIN JUJUR, TAPI AKU LELAH MENJELASKAN

 

Es Es - Ikon Blog

Aku ingin jujur, tapi aku lelah menjelaskan. Kejujuran sering diperlakukan seperti meja informasi di gedung yang salah. Orang datang bukan untuk membaca petunjuk, tapi untuk memastikan mereka bisa bertanya sebanyak mungkin—kadang sampai petugasnya kehabisan suara. Setiap kalimat yang keluar dariku dianggap undangan diskusi terbuka, padahal niatku hanya memberi tahu posisi berdiriku hari itu—bukan membuka forum debat yang tak berujung.

Aku sudah mengenali tatapan itu sejak lama. Tatapan orang yang mendengar sambil menyiapkan respons, seperti kasir yang sudah menekan tombol “total” sebelum semua barang benar-benar di-scan. Mereka tersenyum tipis, mata berbinar, menunggu giliran bicara. Kejujuran tidak pernah cukup sebagai pernyataan sederhana. Ia harus diuji, diputar balik, dikonfirmasi ulang, seolah-olah aku menyerahkan barang pecah belah tanpa stiker “fragile”—dan mereka merasa berhak membukanya hanya untuk memastikan isinya.

Dulu aku rajin mengemasnya dengan hati-hati. Aku menjelaskan dengan niat baik, tambahkan konteks, sebab-akibat, bahkan keterangan tambahan seperti brosur lipat agar tidak ada yang salah baca. Aku kira kejujuran itu seperti manual alat rumah tangga: semakin lengkap penjelasannya, semakin kecil kemungkinan disalahgunakan. Ternyata aku keliru besar. Manual justru membuat orang berani membongkar lebih dalam, karena mereka merasa sudah tahu cara memasangnya kembali—meski seringkali bagian-bagiannya tercerai-berai setelahnya.

Kejujuran tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu diseret ke meja diskusi, duduk di kursi yang kakinya goyah, lalu diperlakukan seperti proposal yang harus disetujui bersama. Ada yang berkata, “aku hanya ingin mengerti,” sambil mencoret bagian yang terasa tidak familiar. Ada yang mengangguk pelan, seperti menyetujui, padahal itu hanya jeda sebelum mereka menyelipkan kisah hidupnya sendiri—seolah ceritaku hanyalah pembuka untuk monolog mereka. Aku mendengar ceritaku diceritakan ulang, dengan nada yang tidak lagi kukenal, seperti lagu lama yang di-remix tanpa izin.

Lama-lama aku sadar, menjelaskan itu melelahkan bukan karena sulit, tapi karena sia-sia belaka. Rasanya seperti menuang air ke gelas yang bocor sambil ditanya kenapa tidak penuh-penuh. Banyak orang tidak datang untuk mendengar, mereka datang untuk memastikan mereka tidak tertinggal. Kejujuran orang lain hanyalah cermin darurat agar mereka bisa melihat diri sendiri sebentar, lalu pergi dengan perasaan “sudah hadir”—tanpa pernah benar-benar melihatku.

Sekarang aku berpikir pensiun menjadi pemandu wisata bagi pikiranku sendiri.Tidak ada kronologi, tidak ada lampiran, tidak ada grafik emosi. Kalau aku diam, itu bukan kode yang harus dipecahkan. Itu hanya pintu yang sedang tidak dibuka.

Aku tidak sedang anti-kejujuran. Aku hanya berhenti menganggap kejujuran sebagai kewajiban edukatif. Tidak semua kebenaran perlu dipresentasikan dengan pointer laser. Beberapa cukup diletakkan di meja, lalu dibiarkan. Siapa yang mau mengambil itu pilihan. Siapa yang bingung, ya silakan.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar