MEYAKINKAN KETIDAKTAHUAN

 

Es Es - Ikon Blog

Aku sering bertanya padahal sudah tahu jawabannya. Bukan karena kurang informasi, tapi karena jawaban itu tidak ramah. Ia terlalu lurus, terlalu cepat sampai ke inti, terlalu jujur untuk dibiarkan berdiri sendirian. Maka aku berpura-pura tidak tahu, seolah dengan bertanya lagi, realitas bisa merasa sungkan lalu berubah pikiran.

Aku tahu bagaimana ini akan berakhir. Aku tahu polanya. Aku tahu keputusan yang seharusnya diambil, kesimpulan yang paling masuk akal, dan arah yang paling masuk akal—secara emosional maupun logis. Justru karena itulah aku tidak langsung menerimanya. Aku mencari orang lain, sudut pandang lain, pengalaman orang lain—apa pun yang bisa memberiku versi alternatif dari jawaban yang sama.

Aku bertanya dengan nada polos, padahal di dalam kepala sudah ada subtitle: tolong jangan jawab seperti yang aku tahu. Aku mendengarkan sambil berharap ada celah kecil, satu kalimat minor, satu pengecualian yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk menunda. Bukan untuk membantah, tapi untuk bernegosiasi dengan kenyataan.

Masalahnya, kenyataan jarang tertarik bernegosiasi.

Yang lebih menyedihkan, aku tidak sedang membohongi orang lain. Aku sedang menyusun skenario rapi agar bisa meyakinkan diri bahwa kebohongan itu tidak disengaja. Aku ingin percaya bahwa jawabannya belum final. Bahwa masih ada kemungkinan tersembunyi. Bahwa mungkin aku belum cukup pintar, belum cukup sabar, belum cukup mendengar—padahal sebenarnya aku hanya belum cukup berani.

Realitasnya, aku tahu kapan sesuatu harus selesai, tapi aku berpura-pura tidak tahu caranya agar bisa tinggal sebentar lebih lama. Aku tahu kapan harus berhenti berharap, tapi aku bertanya lagi supaya harapan punya alibi. Aku tahu kapan harus pergi, tapi aku mencari peta lain, seolah arah utara bisa berubah kalau cukup banyak orang menyetujuinya.

Lucunya, semakin aku mencari jawaban lain, semakin jelas jawaban yang pertama. Seperti mengetuk pintu yang sama dari sisi berbeda, hanya untuk memastikan bahwa memang tidak ada pintu lain. Tapi aku tetap mengetuk, karena mengetuk terasa seperti usaha, dan usaha terasa lebih bermoral daripada menerima.

Aku menyebut ini kehati-hatian. Kadang aku menyebutnya proses. Padahal ini hanya penundaan yang berpakaian rapi. Aku tidak bodoh. Aku hanya berharap kebodohan kecil ini bisa menyelamatkanku dari konsekuensi.

Dan mungkin itulah inti kebiasaanku: aku tidak bertanya untuk tahu. Aku bertanya untuk menunda tahu. Aku tidak mencari jawaban yang benar, tapi jawaban yang lebih bisa kuterima. Masalahnya, jawaban yang bisa kuterima jarang yang benar.


back -------- next

Posting Komentar

0 Komentar